Sabtu, 12 Februari 2011

PENYAKIT MULUT & KUKU

LEARNING OBJECTIVE
1. PENYAKIT MULUT DAN KUKU (PMK), MELIPUTI:
  • ETIOLOGI
  • PATOGENESIS
  • GEJALA KLINIS
  • DIAGNOSA
  • DIFERENSIAL DIAGNOSA
  • TERAPI
2. SYARAT-SYARAT PEMOTONGAN DAN DAGING YANG ASUH

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Meliputi:
Etiologi
Penyakit mulut dan kuku disebabkan oleh picorna virus. Hospes penyakit mulut dan kuku ini dapat menyerang pada golongan ruminansia seperti sapi, kerbau kambing, domba, dan juga babi (Anonim1., 2008).
Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) adalah penyakit yang sangat menular dan merupakan penyakit terpenting yang menyerang ternak/hewan berkuku genap seperti sapi, kerbau, babi, kambing, domba, rusa dan lain-lain. Penyakit ini disebut juga apthae epizootica (AE), aphtous fever, foot and mouth disease (FMD). Penyakit ini disebabkan oleh Aphthovirus dari keluarga Picornaviridae yang berukuran sangat kecil yaitu sekitar 20 milimikron. Ada 7 serotipe virus PMK yaitu: tipe A, O, C, SAT 1,SAT 2, SAT 3 dan tipe Asia 1. Di Indonesia pernah terjadi wabah PMK akibat adanya tipe O11. Virus PMK sangat labil, antigenitasnya cepat dan mudah berubah. Virus PMK dapat bertahan lama pada darah, sumsum tulang, kelenjar limfa dan semen, juga dapat bertahan lama pada bahan yang mengandung protein; tahan kekeringan dan tahan dingin (Anonim2., 2009).

Patogenesis
Cara penularan penyakit mulut dan kuku adalah melalui udara secara aerosol sehingga dapat menyerang sapi pada saluran pernafasan. Dan dapat juga melalui kontak langsung dengan hewan ekresi dan sekresi dari hewan yang menderita penyakit mulut dan kuku (Anonim., 2008).
Juga dapat ditularkan melalui produk asal ternak seperti air susu dan daging, lalu lintas barang/bahan yang tercemar virus PMK seperti sepatu, kendaraan dan pakaian, melalui angin dapat menularkan penyakit ke kawasan yang luas dan makanan yang tercemar virus PMK, serta melalui reproduksi (inseminasi buatan yang menggunakan semen beku yang tercemar) (Anonim2., 2009).

Penyakit ini dibagi menjadi 3 macam bentuk:
  • Bentuk dermostomatitis yang tenang (benigna)
  • Bentuk inrmadiate toxic dengan penyakit yang lebih berat
  • Bentuk ganas (malignant) dengan perubahan pada otot janung dan sklelet (Anonim1., 2008).
Gejala klinis
Gejala yang ditimbulkan bervariasi tergantung pada kondisi dan faktor virulensi dari Penyakit mulut dan kuku tersebut. Gejala klinis yang mula mula terlihat antara lain:
  • Suhu tubuh meningkat dan akan terlihat jelas pada sapi yang masih muda. Kenaikan ini akibat dari fase viremia dari virus picorna virus. Dan biasanya suhu tersebut akan turun setelah terbentuknya lepuh-lepuh.
  • Lepuh-lepuh tersebut dapat ditemukan didalam mulut sehingga menyebabkan meningkatnya saliva dalam mulut sehingga terbentuk busa disekitar bibir.
  • Lepuh tersebut juga dapat ditemukan pada ambing yang menyebabkan produksi susu turun dan kadang dapat menyebabkan keguguran.
  • Pada tracak biasanya lepuh terjadi bersamaan dengan proses yang terjadi didalam mulut. Lepuh yang terjadi menyebabkan rasa sakit atau nyeri pada hewan yang menderita, sehingga menyebabkan hewan tersebutmalas bergerak dan hanya mau berbaring.
  • Kesembuhan dari lesi yang tidak mengalami komplikasi akan berlangsung dengan cepat berkisar antara 1-2minggu, namun apabila ada infeksi skunder maka kesembuhan akan tertunda (Anonim1., 2008).
  • Gejala umum PMK pada ternak ditandai dengan adanya kelesuan, suhu tubuh meningkat dan mencapai 410C, hypersalivasi (keluarnya air liur yang berlebihan), nafsu makan berkurang, enggan berdiri, pincang dan semua gejala tadi terjadi serentak pada suatu kelompok hewan/ternak
  • Tanda klinis khusus penyakit ini berupa adanya lepuh-lepuh berupa penonjolan berisi cairan bening hingga kuning keruh kemerahan dan dapat dengan mudah terkelupas. Lepuhlepuh ini sering ditemukan pada bagian lidah, bibir, mucosa pipi, gusi, langit-langit mulut, ujung kaki, teracak dan ambing pada hewan betina (Anonim2., 2009).
Diagnosa
Diagnosis dari penyakit mulut dan kuku didasarkan pada gejala klinis yang ditimbulkan. Selain itu dilakukan koleksi sampel pada hewan yang menderita untuk diperiksa dilaboratorium.
Sampel isolasi dapat diambil melalui cairan lepuh, keropeng bekas lepuh, dan sampel darah (Anonim1., 2008).
Prosedur pemeriksaan ELISA
Plat mikro ELISA 96 sumuran di Coat selama 16 jam pada suhu 4ºC dengan antigen ND diencerkan dalam larutan penyangga karbonat-bikarbonat pH 9,6. Antigen virus ND yang digunakan adalah vaksin ND yang mengandung virus tipe B1 (produksi Research Institut for Chemical and Lymph Treatment Japan.) dengan perbandingan 2,4 ml vaksin: 9,6 ml buffer. Setelah diinkubasi pada suhu 4ºC selama 16 jam, plat mikro dicuci 3 kali dengan Elisa washing buffer (0,01% Triton –X-100 dalam PBS). Semua sumuran dalam plat mikro selanjutnya diblok dengan 200 ml susu skim 3% dalam PBS. Plat mikro diinkubasikan selama 1 jam pada suhu 37ºC dan dicuci sebanyak tiga kali seperti diatas. Ke dalam setiap sumuran kemudian ditambahkan serum itik yang diuji dengan pengenceran 1:200 (1 serum: 200 PBS) (Iwan., 2005).
Sebagai kontrol positif dipakai serum itik sampel yang positif dengan uji western imunoblotting. Sebagai kontrol negatif dipakai 2 sumuran yang diisi FCS (fetal calf serum), 2 sumuran yang tidak diisi antibodi I dan 1 sumuran yang tidak diisi antibodi I dan II .
Setelah inkubasi selama 1 jam pada suhu 37ºC dan pencucian sebanyak 3 kali ke dalam sumuran plat mikro ditambahkan antiduck Ig G (KPL) yang dilabel dengan horse radish peroxidase (HRP). Selanjutnya plat mikro diinkubasi kembali selama 1 jam pada suhu37ºC, kemudian dicuci sebanyak tiga kali seperti diatas. Sesudah itu kedalam masing-masing sumuran ditambahkan 100 ml substrate solution (0,04% OPD dan 0,003 % H202 dalam Phospate Citrate buffer) dan diinkubasikan pada suhu kamar di tempat yang gelap tanpa dibungkus. Akhirnya ke dalam masing-masing sumuran ditambahkan 50 ml stop solution (H2SO4 6 N).Perubahan warna menjadi coklat menandakan sampel tersebut positif. Hasil dibaca secepatnya pada Elisa plate reader dengan panjang gelombang 490 nm. Nilai optical density (OD) yang didapat kemudian ditabulasi (Iwan., 2005).
Uji Western Imunoblotting
Protein ND dianalisis dengan Sodium Duodecyl Sulfate-Polycrylamide Gel Elektrophpresis (SDS-Page) dengan 4% stacking gel dan 12,5% separating gel. Protein yang telah terpisah ditransfer ke membran nitroselulosa, kemudian dibloking dengan susu skim 3% dalam PBS. Kemudian menbran digenangi dengan serum itik yang akan diuji dengan pengenceran 1:200. Setelah itu ditambahkan anti duck Ig G-HRP (Cappel), protein yang bereaksi divisualisasikan dengan penambahan substrat ECL(Amersham) (Iwan., 2005).
Prosedur Pemeriksaan PCR
Proses PCR dilakukan dalam mesin Mastercycler® 5330 (Eppendorf) sebanyak 30 siklus, dengan masing-masing siklus terdiri dari tahap-tahap denaturasi templat pada suhu 94ºC selama 15 detik, tahap penempelan primer (annealing) pada suhu 50ºC selama 15 detik, dan tahap pemanjangan primer pada suhu 72ºC selama 15 detik. Untuk mencegah penguapan larutan pada saat inkubasi berlangsung, maka mesin Mastercycler® 5330 (Eppendorf) dilengkapi dengan Heatable lid yang akan memanaskan bagian atas tabung Eppendorf.
Pemeriksaan hasil PCR dengan elektroforesis gel agarosa: hasil PCR diperiksa dengan cara elektroforesis pada gel agarosa 2% (b/v) yang dibuat dengan melarutkan 0,8 gram agarosa dalam 40 mL buffer TAE (40 mM Tris-0,11% AS asetat; dan 1 mM EDTA). Larutan dipanaskan hingga agarosa larut sempurna, lalu didinginkan hingga suhu 60ºC dan ditambahkan 1 μL etidium bromida 10 mg/mL. Campuran dikocok sampai homogen kemudian dituangkan kedalam cetakan gel berukuran 6x10 cm yang telah dilengkapi dengan sisir untuk mencetak sumur gel. Gel yang masih berupa cairan dibiarkan hingga membeku sempurna. Gel yang telah membeku siap digunakan pada elektroforesis.
Sebanyak 10 μL sampel hasil PCR dicampur dengan 3 μL loading buffer (40% sukrosa; 0,25% bromfenol biru). Campuran dihomogenkan dengan cara dipipet berkali-kali lalu dimasukkan kedalam sumur gel agarosa 2% (b/v). Elektroforesis dilakukan menggunakan alat Mini Sub Cell (Biorad) dengan tegangan 80 volt selama 1-1,5 jam dan menggunakan buffer TAE sebagai media pengantar arus. Sebagai standar ukuran DNA digunakan DNA pUC 19 yang dipotong dengan enzim HinfI menghasilkan fragmen 1419, 517, 396, 214, dan 75 pasang basa. Pita DNA dilihat dengan bantuan sinar ultra violet, dan didokumentasikan dengan cara pemotretan menggunakan kamera yang dilengkapi dengan filter UV.

Diferensial diagnosa
Diferensial diagnosa dari penyakit mulut dan kuku antara lain:
  • Vesicular stomatitis
  • Exanthema vesicular pada babi
  • Swine vesicular disease (SVD)
  • Penyakit sampar pada sapi
  • Bovine Viral Diarrhea Virus - Mucosal Disease (BVDV-MD)
  • Jembrana
  • ada kambing dan domba: penyakit virus contagious ecthyma dan orf (Anonim1., 2008).

Penyakit Jembrana
Etiologi; virus jembrana dengan ciri-ciri seperti, ukuran 80-120 nm, mempunyai enzim reserve transcriptase, berkembang di dalam sel, dan dapat dihancurkan oleh ether.

Gejala-gejalanya antara lain kenaikan suhu badan 40-42ºC, lesu dan kurang nafsu makan. Salah satu yang paling menciri yaitu berkeringat darah.

Pemeriksaan Patologi-Klinisnya, anemia, anisositosis, basofilia, & polikromasia.
Pemeriksaan Patologi-Anatomisnya, limfadenopati, perdarahan di seluruh tubuh, dan selaput lender hidung hiperemik (Subronto., 2003).

Penyakit Bovine Viral Diarrhea (BVD)
Etiologi; genus Pestivirus, family Togaviridae
Gejala-gejala
  • Sub-klinis; demam tidak begitu tinggi, lekopenia, diare ringan, dan ditemukan titer antibody yang tinggi.
  • Akut; pada sapi tua akan nampak sekali, suhu bersifat berpuncak dua, nafsu makan turun, gerak rumen berkurang, terjadi penimbunan gas di rumen, dan tinja sangat cair.
  • Sub-akut atau Kronik; diare intermitten, kurus, kembung rumen kronik, dan anemia sertalekopenia.
  • Neonatal; pedet-pedet umur 1 bulan ditandai suhu tubuh naik, diare serta gangguan pernafasan.
Pemeriksaan Patologi-Klinis; oleh diare terjadi asidosis, hipokhloremia, PMN merosot jumlahnya, dan netropenia.
Pemeriksaan Patologi-Anatomis; lesi di berbagai alat tubuh, pada saluran pencernaan ada perdarahan, nekrosis pada jaringan limfoid, kelenjar limfe, dan mengalami hipoplasia (Subronto., 2003).

Penyakit Ecthyma Contagiosa (Orf)
  • Etiologi; virus cacar pseudocowpox
  • Pathogenesis; setelah memasuki mukosa kulit atau mulut, lalu berproliferasi dan menimbulkan lesi primer papulae dan vesikulae.
  • Gejala-gejala; lesi kulit di sekitar mulut dan hidung berupa papula, vesikula, pustulae, radang basah, disertai bentukan keropeng.
  • Pemeriksaan Patologi-Anatomis; lesi ulseratif pada penyakit akut, di dalam rongga hidung dan saluran pernafasan bagian atas, erosi mukosa di kerongkongan, abomasum dan usus halus (Subronto., 2003).
Terapi
Untuk mengendalikan penyakit ini dapat dilakukan vaksinasi, tergantung pada keadaan setempat (Anonim1., 2008).
Mematuhi seluruh prosedur pemasukan ternak dan produk ternak yang dikeluarkan oleh pemerintah. Tidak memasukan hewan yang peka atau produknya dari negara yang sedang mewabah PMK. Mengikuti prosedur karantina yang berlaku di tempat-tempat pemasukan seperti bandara dan pelabuhan (Anonim2., 2009).


Syarat-Syarat Pemotongan Dan Daging Yang Asuh
Pada saat sebelum pemotongan hewan ada beberapa hal yang harus diperhatikan guna mendapatkan daging yang baik dan aman, seperti:
  1. Data; Riwayat hidup hewan yang akan disembelih dan data pemilik hewan
  2. Personal; semua petugas sudah siap
  3. Tempat Pemotongan Hewan, dan
  4. Perlengkapan dan Peralatan Penyembelihan (Anonim3., 2007).
Proses pemotongan hewan antara lain sebagai berikut:
  • Penampungan hewan
  • Pemeriksaan Ante Mortem
  • Pemeriksaan Perilaku; Nafsu makan, cara bernafas, berjalan, buang kotoran
  • Pemeriksaan Fisik; Suhu tubuh (temperatur), mata, mulut, hidung, kulit, bulu, kelenjar getah bening, dan daerah anus
  • Pemotongan, Pengulitan, dan Pemisahan Jerohan
  • Pemeriksaan Pos Mortem
  • Karkas; Karkas sehat tampak kompak dengan warna merah merata dan lembab
  • Paru-paru; Paru-paru sehat berwarna pink, jika diremas terasa empuk dan teraba gelembung udara, tidak lengket dengan bagian tubuh lain, tidak bengkak dengan kondisi tepi-tepi yang tajam
  • Jantung; Ujung jantung terkesan agak lancip, bagian luarnya mulus tanpa ada bercak-bercak perdarahan
  • Hati; Warna merah agak gelap secara merata dengan kantong empedu yang relatif kecil
  • Limpa; Ukuran limpa lebih kecil dari pada ukuran hati, dengan warna merah keunguan
  • Ginjal; Kedua ginjal tampak luar keadaannya mulus dengan bentuk dan ukuran relatif semetris
  • Lambung & Usus; Bagian luar dan bagian dalam tampak mulus
  • Pembagian, Pengemasan, dan Distribusi (Anonim3., 2007).
Daging Ayam Berformalin; berwarna putih mengkilat, konsistensi sangat kenyal, permukaan kulit tegang, bau khas formalin, dan biasanya tidak dihinggapi lalat (Dihan., 2008).
Daging Ayam Tiren; warna kulit kasar terdapat bercak-bercak darah pada bagian kepala, ekor, punggung, sayap, dan dada, bau agak anyir, konsistensi otot dada dan paha lembek, serabut otot berwarna kemerahan, pembuluh darah di daerah leher dan sayap penuh darah, warna hati merah kehitaman, bagian dalam karkas berwarna kemerahan, ayam setelah di cabuti bulunya jika dimasukkan plastic akan keluar cairan memerah dalam plastic, warna daging kebiruan dalam proses pembusukan dan daging ayam setelah digoreng bila diumpankan ke kucing tidak mau dimakan (Dihan., 2008).
Daging Sapi Gelonggongan; warna daging merah pucat, konsistensi daging lembek, permukaan daging basah, biasanya penjual tidak menggantung daging tersebut karena jika digantung akan banyak mengeluarkan air sehingga berat daging berkurang (Dihan., 2008).
Daging Mati Sebelum Disembelih; bau khas bangkai, irisan leher/bekas pemotongan rapi, adanya darah yang membeku pada arteri/pembuluh darah dan vena jugularis, warna daging kehitaman (3-5 jam setelah kematian), usus berwarna kebiruan, paru, jantung dan organ lain masih ada darah, konsistensi daging lama sekali bahkan sampai berlubang, darah terkumpul sesuai saat terajtuh (Dihan., 2008).
Daging Segar Yang Diawetkan Dengan Es Batu; warna daging agak pucat, organ dalam agak mengeras, bau khas daging berkurang, permukaan daging agak basah (Dihan., 2008).

Tips Membedakan Beragam Daging
Daging Anak Sapi/Sapi Muda; pada umumnya agak pucat, kelabu putih, sampai merah pucat dan menjadi tua, terdiri dari serabut-serabut halus, konsistensi agak lembek, bau dan rasa berbeda dengan daging sapi dewasa. Daging Sapi Dewasa; daging merah pucat, berserabut halus dengan sedikit lemak, konsistensi liat, bau dan rasa aromatis, daging domba, daging terdiri dari serabut halus, warna merah muda, konsistensi cukup tinggi, banyak lemak di otot, bau sangat khas, dan lemak berwarna putih (Anonim4., 2008).
Daging Kambing; daging lebih pucat dari daging domba, lemak menyerupai lemba domba, dan daging kambing jantan berbau khas. Daging Babi; daging umumnya pucat hingga merah muda, otot punggung yang mengandung lemak umumnya kelihatan kelabu putih, serabut halus konsistensi padat dan berbau spesifik. Daging Kerbau; pada umumnya liat, karena disembelih pada umur tua, serabut otot kasar dan lemaknya putih, rasanya hampir sama dengan daging sapi. Daging Ayam; warna daging putih pucat, bagian otot dada dan otot paha kenyal, bau agak amis sampai tidak berbau (Anonim4., 2008).

Kriteria Kualitas Daging
Kualitas daging dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik pada waktu hewan masih hidup maupun setelah dipotong. Pada waktu hewan hidup, faktor penentu kualitas dagingnya adalah cara pemeliharaan, yang meliputi pemberian pakan, tata laksana pemeliharaan dan perawatan kesehatan. Kualitas daging juga dipengaruhi oleh pengeluaran darah pada waktu hewan dipotong dan kontaminasi sesudah hewan dipotong (Anonim4., 2008).
Ciri-ciri kualitas daging yang baik adalah empuk atau lunak, memiliki kandungan lemak atau marbling, warnanya bagus/normal, mempunyai rasa yang relatif gurih dan aroma yang sedap, serta kelembaban yang baik. Sedangkan, kualitas daging yang tidak baik seperti bau dan rasa yang tidak normal, disebabkan oleh adanya kelainan antara lain: hewan sakit, hewan dalam pengobatan, serta warna daging tidak normal, konsistensi daging tidak normal, dan daging busuk (Anonim4., 2008).



DAFTAR PUSTAKA

Anonim1., 2008. Penyakit Mulut dan Kuku. http://www.vet-klinik.com/Peternakan/Penyakit-mulut-dan-kuku.html. Diakses Pada Tanggal; 2/12/2011 4:15:02

Anonim2., 2009. Leaflet PMK. Departemen Pertanian. Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan. Direktorat Kesehatan Hewan. Kesiagaan Darurat PMK (Emergency Center for FMD).

http://images.fmdfreeindonesia.multiply.com/attachment/0/RwmF9goKCq0AAFTLKvY1/Microsoft%20Word%20-%20Leaflet-PMK.pdf?nmid=61032477. Diakses Pada Tangal; 4/27/2009 12:51:54 PM

Anonim3., 2007. Persiapan Proses Pemotongan Hewan Kurban. Pemeriksaan Kesehatan Hewan Kurban. Proses Pemotongan Hewan Kurban. http://qurbansehat.wordpress.com/. Diakses Pada Tanggal; 4/28/2009 4:08:50 PM

Anonim4., 2008. Tips Memilih Daging. http://awam.marewa.info/2008/11/tips-memilih-daging.html. Diakses Pada Tanggal; 4/28/2009 4:03:25 PM

Dihan., 2008. Ciri-Ciri Daging Tidak Sehat. http://healthupyourlife.blogspot.com/2008/12/ciri-ciri-daging-tidak-sehat_11.html. Diakses Pada Tanggal; 4/28/2009 4:02:35 PM

Iwan., 2005. Deteksi Antibodi Newcastle Disease pada Itik Bali Menggunakan Metode ELISA dan Western Blotting. Jurnal Veterinary. Fak. Kedokteran Hewan. Universitas Udayana. http://www.jvetunud.com/archives/98. Diakses Pada Tanggal; 4/27/2009 10:19:57 PM

Noer., A.S.; & Gustiananda., M. 1997. PCR Tanpa Isolasi DNA dari Sel Epitel Rongga. JMS Vol. 2 No. 1, hal. 35 – 45. Kelompok Asam Nukleat dan Genetika Molekul. Jurusan Kimia FMIPA – ITB. Bandung. http://www.fmipa.itb.ac.id/jms/file/Vol%202-1%20Saifudin%20Noer.pdf. Diakses Pada Tanggal; 4/27/2009 12:52:27 PM

Subronto., 2003. Ilmu Penyakit Ternak Mamalia I. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar