Sabtu, 12 Februari 2011

PEMERIKSAAN FISIK SAPI

LEARNING OBJECTIVE
1. PEMERIKSAAN FISIK PADA SAPI
  • ABNORMALITAS SISTEM PENCERNAAN, RESPIRASI, & SISTEM REPRODUKSI

Pemeriksaan Fisik Pada Sapi
Abnormalitas Sistem Pencernaan
Berikan pakan/minum untuk melihat nafsu makan dan minum. Perhatikan juga keadaan abdomen dan bandingkan sebelah kanan dan kiri. Amati mulut, dubur, kulit sekitar dubur dan kaki belakang. Terus perhatikan cara defekasi dan amati tinjanya. Perhatikan pula cara memamahbiaknya (ruminasi).
Mulut, Pharynx, dan Oesophagus; Buka mulut sapi dengan memegang tali hidung/cuping dengan tangan kiri, lalu masukkan tangan kanan ke spatium interalveolar, kemudian lakukan inspeksi. Perhatikan bau, mulut, selaput lendir mulut, pharynx, lidah, gusi, dan gigi-geligih. Perhatikan kemungkinan adanya lesi, benda asing, perubahan warna, dan anomali lainnya. Perhatikan pula limfoglandula regional dan kelenjar ludah. Palpasi oesophagus dari luar sebelah kiri dan raba pharynx dari luar (Boddie. 1962).
Rumen; Lakukan pemeriksaan secara inspeksi, palpasi (dengan tinju), auskultasi, perkusi dan eksplorasi rectal. Bandingkan abdomen kiri dan kanan, perhatikan fossa paralumbalis pada saat inspeksi. Lakukanlah palpasi dan auskultasi hitung frekuensi gerak rumen per 5 menit dan kekuatan geraknya (tonus rumen) normal pada sapi 5-10x/5 menit. Lakukan perkusi pada dinding abdomen sebelah kiri, perhatikan suara masing-masing bagian (Boddie. 1962).
Reticulum; Lakukan asukultasi pada sambungan kostokondral rusuk no.7 sebelah kiri, perhatikan suara aliran ingesta cair lewat sulcus rumino reticularis dari reticulum dan sebaliknya.
Omasum dan Abomasum; Omasum praktis tidak dapat diperiksa secara fisik, hal ini karena letak anatomiknya yang tak dapat dijangkau, sehingga diagnose hanya dapat dilakukan secara tidak langsung. Sebagian dinding abomasum menempel pada dinding perut bawah , sebelah kanan belakang dari proc. xiphoideus. Lakukan perkusi di daerah ini, bila lambung terisi gas akan terdengar resonansi atau suara pekak bila terjadi impaction.
Usus, Rectum, dan Anus; Lakukan auskultasi di daerah abdomen sebelah kanan. Dengarkan peristaltic usus, dan bagaimana kekuatan peristaltik.untuk pemeriksaan rectum, lakukanlah pemeriksaan daerah rectal, sedangkan anus diinspeksi dan palpasi dari luar.
Kembung rumen merupakan bentuk indigesti akut yang disertai dengan penimbunan gas di dalam lambung-lambung muka ruminansia. Kembung dapat terjadi secara primer maupun sekunder. Gas yang tertimbun mungkin dapat terpisah dari isi lambung disebut free gas bloat atau terperangkap di antara ingesta di dalam rumen maupun reticulum dalam gelembung-gelembung kecil yang disebut frothly bloat.
Dalam faktor pakan diketahui ada beberapa hal yang dapat membuat sapi kembung seperti; tanaman leguminose misalnya Alfalfa 108, Ladino 100, tanaman yang muda juga sering mengakibatkan kembung dibanding tanaman yang tua. Bijian-bijian yang digiling sampai halus lebih sering menimbulkan gangguan daripada tanaman yang diberikan secara utuh. Imbangan antara pakan hijauan dengan konsentrat sangat berlebihan, cenderung mengakibatkan kembung. Tanaman yang dipanen dari padangan yang dipupuk dengan urea terbukti juga mudah menyebabkan gangguan. Selain itu, tanaman yang banyak memanfaatkan unsur N, CU, dan Mg dalam jumlah tinggi akan mudah mendorong terjadinya kembung rumen. Tanaman yang dipanen sebelum berbungan atau sesudah turunnya hujan, terutama pada daerah yang kekurangan air sebelumnya, banyak mengakibatkan terjadinya kembung.disamping itu, diketahui beberapa tanaman yang memang potensial dalam menghasilkan getah atau bahan yang mudah menimbulkan busa di dalam rumen (Subronto., 2003).
Faktor-faktor yang mendorong terbentuknya busa meliputi viskositas dan tegangan muka cairan dalam rumen, aliran dan susunan air liur, dan kegiatan jasad renik di dalam rumen. Beberapa protein dapat menigkatkan viskositas dalam rumen. Air liur berfungsi sebagai buffer yang memelihara pH isi rumen dalam batas netral. Protein mucin berguna untuk mencegah membusanya air liur. Kuman streptokokus dapat meningkat bila di dalam rumen terdapat gula sucrose yang pemecahannya akan menghasilkan gas, dank arena adanya lender pada selubung tadi maka gas akan terperangkap di dalam ingesta (Subronto., 2003).

Abnormalitas Sistem Respirasi
Perhatikan adanya aksi-aksi atau pengeluaran seperti batuk, bersin hick-up, perhatikan frekuensi dan amati tipe nafasnya.
Hidung; Perhatikan keadaan hidung dan leleran yang keluar, raba suhu lokal dengan menempelkan jari tangan pada dinding luar hidung.
Pharynx, Larinx, Trakea; Lakukan palpasi dari luar, perhatikan reaksi dan suhunya, perhatikan pula limfoglaandula regional terutama limfoglandula submaxillaris, suprapharyngealis, dan parapharyngealis, perhatikan suhu, konsistensi, dan besarnya, banding kan anatara limfoglandula kanan dan kiri. Pada sapi pharynx dapat diraba melalui mulut.
Rongga dada; Tentukan daerah perkusi atau auskultasi paru-paru dan gambar di atas kertas dengan meletakkan garis batas depan sejajar vertikal, daerah kanan di sebelah kiri dan darah kiri di sebelah kanan ke atas, lakukan auskultasi dan perhatikan hasilnya, bandingkan dengan hasil auskultasi dengan trakea. Lukakan perkusi, dan perhatikan suara perkusi yang di hasilkan. Lakukan palpasi pada intercostae. Perhatikan adanya rasa nyeri pada pleura dan edeme subcutis (Boddie. 1962).
Dengan makin banyaknya gas yang terbentuk, volume rumen juga akan meningkat. Pendesakan rumen ke arah dada menyebabkan penderita mengalami kesulitan bernafas, hingga pernafasannya jadi frekuen, dangkal dan bersifat torakal (Subronto., 2003).

Abnormalitas Sistem Reproduksi
Bagian dalam terdiri atas ovarium, tuba uterin/oviduk, uterus, dan vagina sedangkan bagian luar tersusun atas vulva dan klitoris. Ovarium terletak di belakang ginjal yang menyerupai biji almond. Tuba uterine (tuba fallopi, salpinx atau oviduk) merupakan saluran yang berpasangan dan berkonvolusi berfungsi menghantarkan ova dari tiap ovari menuju ke tanduk uterus dan juga tempat terjadinya fertilisasi oleh spermatozoa. Bagian tuba uterine dekat dengan ovarium membentuk sebuah corong yang disebut infundibulum tubae uterine yang ujungnya membentuk fimbria berfungsi dalam ovulasi. Uterus khususnya mamalia terdiri dari korpus (badan), serviks (leher), dan dua tanduk, atau kornu. Serviks uterus mengarah ke kaudal menuju vagina merupakan sfingter otot polos yang kuat dan tertutup rapat, kecuali pada saat birahi atau kelahiran (Frandson,. 1996).
Vagina adalah saluran peranakan yang terletak di dalam pelvis antara uterus (cranial) dan vulva (caudal) berfungsi sebagai selaput yang menerima penis dari jantan pada saat kopulasi. Forniks vagina berbentuk lingkaran di sekitar serviks pada kuda dan juga bisa tidak ada sama sekali, dimana ujung caudal menyatu dengan vagina. Vulva (pudendum feminium) adalah bagian eksternal dari genitalia betina antara vagina sampai ke bagian luar (labium mayor dan minor). Pertautan antara vulva dan vagina ditandai oleh orifis uretra eksternal (Frandson,. 1996).
Umur dan berat pada saat pubertas dipengaruhi oleh faktor genetik. Pada umumnya, setiap faktor yang mengurangi kecepatan pertumbuhan akan menunda pubertas. Ada beberapa faktor yang dapat mengganggu terjadinya pubertas seperti; pemberian makanan yang telah direkomendasikan, temperatur lingkungan yang tinggi, serta kesehatan dan sanitasi yang kurang baik (Anonim., 2003/2004).

 
 
DAFTAR PUSTAKA

Anonim., 2003/2004. Fisiologi Reproduksi Ternak I. Bag. Reproduksi & Kebidanan. Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

Boddie., G.F. 1962. Diagnostic Methods in Veterinary Medicine. Philadelphia: J.B. Lippincott Company

Frandson,. R.D. 1996. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Subronto., 2003. Ilmu Penyakit Ternak I. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar