Sabtu, 12 Februari 2011

JENIS-JENIS KOLIK PADA KUDA

LEARNING OBJECTIVE
  1. PENGERTIAN KOLIK DAN JENIS-JENIS KOLIK PADA KUDA
  2. PENGERTIAN ANALGETIKA DAN JENIS-JENIS OBAT ANALGETIKA
  3. PEMERIKSAAN SISTEM UROPOETICA

Pengertian Kolik dan Jenis-Jenis Kolik Pada Kuda
Kolik adalah rasa sakit di daerah perut, baik yang berasal dari alat pencernaan maupun bukan, yang di tandai kegelisahan, kesakitan, dan secara langsung dengan gangguan peredaran darah dan segala manifestasinya (Subronto., 2003).
Kuda mudah menderita kolik karena kekhususan alat pencernaan kuda, seperti:
  1. Lambung kuda relative kecil
  2. Pylorus kuda letaknya “terjepit” di antara kolon dorsal dan ventral
  3. Kolon dorsal dan ventral tergantung longgar pada mesenterium yang panjang hingga mudah mengalami pemutaran atau perubahan letak anatomis
  4. Kuda memiliki saluran pencernaan yang panjang, sedang ukuran rongga perut relative sempit
  5. Kerongkongan yang panjang terletak miring dan “terjepit”, tidak memudahkan proses muntah
  6. Kuda termasuk spesies mamalia yang tidak tahan terhadap sensasi sakit, hingga memudahkan terjadinya kolik (Subronto., 2003).
Klasifikasi kolik
  1. Berdasarkan asal penyebab rasa sakit kolik; terdiri dari kolik sejati, simtomatik, dan kolik palsu. Pada kolik sejati asal penyebab rasa sakit yang terdapat di dalam saluran pencernaan, misalnya usus, lambung, hati, dan sebagainya. Pada kolik palsu, penyebabnya terdapat dalam alat-alat di luar sistem pencernaan makanan, misalnya ginjal, rahim, dan saluran kemih. Kolik dikatakan sebagai kolik simtomatik bila kolik tersebut hanya merupakan gejala ikutan dari penyakit lain, misalnya anemia infeksiosa, dan ingus tenang.
  2. Berdasarkan patofisiologisnya, kolik dibedakan ke dalam kolik spasmodik, kolik konstipasi, kolik timpani, kolik obstruksi, kolik lambung, dan kolik trombo-emboli (verminous colic)
  3. Berdasarkan jalannya penyakit di kenal kolik-kolik yang berlangsung secara sub-akut, akut dan rekuren (atau kronik). Kronik rekuren berlangsung secara berulang-ulang tergantung pada perjalanan penyakit primernya
  4. Berdasarkan cara penanganan kolik dikenal kolik sederhana, atau kolik non-operatif, yang penanganannya cukup dengan pengobatan medicinal, dan kolik operatif, atau surgical kolik, yang untuk kesembuhannya diperlukan tindakan operasi (Subronto., 2003).
Berikut ini, merupakan klasifikasi gangguan pencernaan makanan berdasarkan perubahan patofisiologis alat pencernaan makanan:

Kolik Konstipasi (Impaksio Kolon)
Kolik konstipasi merupakan kolik yang ditandai dengan rasa sakit perut dengan derajat sedang, anoreksia, depresi serta adanya konstipasi.
Kasus terjadi karena kurang pakan, kurangnya jumlah air yang diminum, kelelahan setelah pengangkutan, keadaan gigi yang tidak baik, setelah sakit ataupun operasi, setelah pengobatan cacing, dan pada anak-anak kuda yang baru saja dilahirkan karena retensi tahi gagak (mukonum) (Subronto., 2003).

Kolik Spasmodik (Enteralgia Kataralis)
Kolik spasmodik adalah kolik akut, disertai rasa mulas yang biasanya berlangsung tidak lama, akan tetapi terjadi secara berulang kali. Rasa mulas ditimbulkan oleh kenaikan peristaltik usus dan spasmus hingga mengakibatkan tergencetnya syaraf. Kenaikan peristaltik akan menyebabkan terjadinya diare. Kolik dapat terjadi karena pemberian pakan yang kasar yang sulit dicernakan. Juga penggantian pakan yang dilakukan mendadak dan kuda-kuda yang baru saja diberi makan kenyang segera dipekerjakan lagi (Subronto., 2003).

Kolik Timpani (Flatulent Colic)
Kolik timpani merupakan kolik yang disertai timbunan gas yang berlebihan di dalam kolon dan sekum. Pembebasan gas terhalang oleh obstruksi atau oleh perubahan lain dari saluran pencernaan. Oleh cepatnya pembentukan gas proses kolik berlangsung secara akut, yang kadang-kadang terjadi secara berulang, dan mengakibatkan rasa sakit yang sangat. Kolik timpani dapat terjadi akibat konsumsi pakan yang mudah mengalami fermentasi, atau oleh factor lain yang menyebabkan turunnya peristaltic (Subronto., 2003).

Kolik Sumbatan (Kolik Obstruksi)
Kolik obstruksi merupakan kolik yang timbul akibat terhalangnya ingesta di dalam usus, oleh adanya batu usus (enterolith, fecalith, coprolith), atau bnagunan bola-bola serat kasar (phytobezoar). Timbunan serat kasar dapat diakibatkan karena perubahan anatomi usus, seperti invaginasi, volvulus, dan strangulasi. Kolik obstruksi ditandai dengan adanya rasa sakit yang berlangsung secara progresif, terentinya secara total pasasi tinja di dalam saluran pencernaan, penurunan kondisi dan gejala autointoksikasi.
Kolik obstruksi terjadi oleh adnaya sumbatan yang terjadi karena pemberian bahan makanan yang kasar dan kurangnya air yang diminum. Karena pakan hijauan yang tercampur dengan tanah (Subronto., 2003).

Kolik Lambung (Distensi Lambung)
Kolik lambung adalah kolik yang biasanya berlangsung secara akut, yang terjadi sebagai akibat meningkatnya volume lambung yang berlebihan. Kolik ditandai dengan ketidaktenangan, anoreksia total, rasa sakit yang mendadak atau sedikit demi sedikit, dan muntah. Dalam kedaan lebih lanjut gejala kelesuan dan shock terlihat lebih dominan (Subronto., 2003).

Kolik Trombo-Emboli (Arteritis mesenterica verminosa, Aneurisma verminosa)
Kolik trombo-emboli terjadi karena gangguan aliran darah ke dalam segmen usus, sebagai akibat terbentuknya simpul-simpul arteri oleh migrasi larva cacing Strongylus vulgaris. Terbendungnya saluran darah oleh thrombus dan embolus mengakibatkan terjadinya kolik spasmodik yang rekuren, sedangkan atoni segmen usus mengakibatkan terjadinya kolik konstipasi (Subronto., 2003).


Pengertian Analgetika dan Jenis-Jenis Obat Analgetika

Analgetika adalah senyawa yang dalam dosis terapoetik menekan rasa nyeri, tanpa memiliki kerja anestesi umum. Berdasarkan potensi kerja, mekanisme kerja dan efek samping analgetika dibedak dalam 2 kelompok:

Analgetika yang berkhasiat kuat
Bekerja pada saraf pusat (hipoanalgetika, kelompok Opiat)
Analgetika yang berkhasiat lemah (sampai sedang)
Bekerja terutama pada saraf perifer dengan bersifat antipiretika dan kebanyakan juga sifat antiinflamasi dan antireumatik (Mutschler, 1991).

Analgetika yang berkhasiat kuat
a. Kerja pada Pusat Hipoanalgetika:
  • Menurunkan rasa nyeri dengan cara stimulasi reseprot opiate (kerja analgetika)
  • Sebaliknya tidak mempengaruhi kualitas indra lain pada dosis terapi
  • Mengurangi aktivitas kejiwaan (kerja sedasi)
  • Meniadakan rasa takut dan rasa bermasalah (kerja transkuilansia)
  • Menghambat pusat pernafasan dan pusat batuk (kerja depresi pernafasan dan kerja antitusiva)
  • Seringkali mula- mula menyebabkan mual dan muntah akibat stimulasi pusat muntah (kerja emetika), selanjutnya menyebabkan inhibisi pusat muntah (kerja antiemetika)
  • Menimbulkan miosis (kerja miotika)
  • Meningkatkan pembebasan ADH (kerja antidiuretika)
  • Pada pemakaian berulang kebanyaka menyebabkan terjadinya toleransi dan juga ketergantungan (Mutschler, 1991).
b. Kerja Perifer Opiat
  • Memperlambat pengosongan lambung dengan mengkonstriksi pylorus
  • Mengurangi motilitas dan meningkatkan tonus saluran cerna (obstipasi spastic)
  • Mengkontraksi spingter dalam saluran empedu
  • Meningkatkan tonus otot kandung kemih dan juga otot spingter kandung kemih mengurangi tonus pembuluh darah dengan bahaya reaksi ortostatik
  • Menimbulkan pemerahan kulit, urtikaria, rangsang gatal, serta pada penderita asma suatu bronkhospasmus, akibat pembebasan histamine (Mutschler, 1991).
Analgetika kuat diindikasi pada kondisi nyeri yang sangat kuat yang jika tidak, tak cukup untuk dipengaruhi. Disini termasuk terutama nyeri akibat kecelakaan, nyeri setelah operasi dan nyeri tumor. Efek samping yang tak diinginkan yang terpenting adalah ketergantungan psikis dan ketergantungan fisik serta perkembangan toleransi pada pemberian dalam waktu jangka panjang. Karena itu, pada kasus yang penyembuhannya tidak dapat diperhitungkan lagi, opiat harus diberikan dalam dosis serendah mungkin dan sesingkat mungkin (Mutschler, 1991).
Jenis- jenisnya antara lain: opium, morfin, heroin, petidin, metadon, pentazosin, nefopam dan lain- lain (Mutschler, 1991).

Analgetika yang berkhasiat lemah (sampai sedang)
Di samping kerja analgetika, senyawa- senyawa ini menunjukkan kerja antipiretika dan juga komponen kerja antiflogistika dengan kekecualian turunan asetilanida. Sebaliknya senyawa- senyawa ini tidak mempunyai sifat- sifat psikotropik dan sifat sedasi dari hipoanalgetika (Mutschler, 1991).
Analgetika yang berkhasiat lemah diindikasi pada nyeri ringan samapi sedang (misalnya sakit kepala dan sakit gigi), migraine, kondisi demam, dan sejauh senyawa tersebut mempunyai komponen kerja antiflogistik, maka dipakai pula pada penyakit- penyakit yang disertai radang, khususnya pada penyakit reumatik yang disertai radang (Mutschler, 1991).
Jenis- jenisnya antara lain: turunan asam salisiat,, turunan alinin, turunan asam antranilat, turunan pirazol dan lain- lain (Mutschler, 1991).

Obat Analgetik Narkotik
Merupakan kelompok obat yang memiliki sifat opium atau morfin. Meskipun memperlihatkan berbagai efek farmakodinamik yang lain, golongan obat ini terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri yang hebat. Meskipun terbilang ampuh, jenis obat ini umumnya dapat menimbulkan ketergantungan pada pemakai. Obat Analgetik Narkotik ini biasanya khusus digunakan untuk mengahalau rasa nyeri hebat, seperti pada kasus patah tulang dan penyakit kanker kronik.
Contohnya antara lain morfin,metadon,meperidin(petidin),fentanil,buprenorfin,dezosin, butorfanol,nalbufin,nalorfin dan juga pentazosin (Mutschler,1991).

Obat Analgesik Non-Nakotik
Penggunaan Obat Analgetik Non-Narkotik atau Obat Analgesik Perifer ini cenderung mampu menghilangkan atau meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh pada sistem susunan saraf pusat atau bahkan hingga efek menurunkan tingkat kesadaran. Obat Analgetik Non-Narkotik / Obat Analgesik Perifer ini juga tidak mengakibatkan efek ketagihan pada pengguna (berbeda halnya dengan penggunanaan Obat Analgetika jenis Analgetik Narkotik). Contohnya natara lain derivat asam salisilat (aspirin), derivate paraaminofenol (parasetamol),derivat propionate (ibu profen, ketoprofen,naproksen), derivate asam fenamat (asam mefenamat) (Mutschler,1991).


Pemeriksaan Sistem Uropoetica
Perhatikan sikap pada waktu kencing. Amati air seni (kemih) yang keluar, perhatikan warnanya, baunya dan adanya anomali (darah, jonjot, kekeruhan dan lain sebagainya).
Ginjal hewan besar hanya teraba pada hewan yang tidak terlalu besar dan tangan cukup panjang, lewat rektum. Perhatikan reaksi, besar, konsistensi dan simetrinya.
Vesica urinaria; palpasi lewat rectum, tekan tangan agak ke bawah. Lakukan seperti pada hewan kecil, kosongkan dengan kateter, palpasi pada keadaan kosong dari kemih, raba kemungkinan adanya benda asing (batu, tumbuh ganda) atau adanya pembengkakan/penebalan dinding vesica urinaria.
Kateterisasi/pengambilan urin; ambil kateter sesuai dengan kelamin dan besar hewan. Kateter dimasukkan secara legeartis (kateter steril, dengan lubricant yang steril, tidak megiritasi dan mengandung antiseptika).
Pemeriksaan urin; pemeriksaan fisik, perhatikan air kemih yang telah di tamping, perhatikan warna, kekentalan, adanya benda-benda yang mencurigakan dan bau. Pemeriksaan laboratorium, minimal harus dilakukan pemeriksaan protein, pH, dan endapan, bila perlu ambil darahnya untuk pemeriksaaan urea (BUN; blood urea nitrogen) dan kreatinin (Boddie. 1962).


DAFTAR PUSTAKA

Anonim., 2009. http://farmakologi-pharmacology.blogspot.com/2008/11/obat-analgetik-berdasarkan-ilmu.html

Boddie., G.F. 1962. Diagnostic Methods in Veterinary Medicine. Philadelphia: J.B. Lippincott Company.

Mutschler, Ernst. 1991. Dinamika Obat. Bandung: Penerbit ITB

Subronto., 2003. Ilmu Penyakit Ternak I. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar