Sabtu, 29 Januari 2011

INFEKSI CACING

LEARNING OBJECTIVE
  1. PENYAKIT & PRINSIP INFEKSI CACING PADA HEWAN
  2. RESPON RAGAWI HEWAN TERHADAP PENYAKIT CACINGAN
  3. DIAGNOSA TERHADAP PENYAKIT CACINGAN

Penyakit & Prinsip Infeksi Cacing Pada Hewan
Infeksi C. Tambang (Ankilostomiasis)
Penyakit cacing tambang banyak ditemukan pada daerah dengan tingkat kelembapan tinggi. Biasanya, pada anjing ditemukan cacing Ancylostoma caninum yang terdapat di dalam mukosa usus halus. Cacing ankilostoma dewasa biasanya ditemukan pada mukosa usus halus anjing, telurnya tipe strongyloid, yaitu berdinding tipis, oval, dan bila dibebaskan keluar tubuh memiliki 2 – 8 gelembung blastomer.
Daur hidup cacing tambang bersifat langsung, tanpa hospes antara. Cacaing dewasa hidup dari menghisap darah di usus halus, selalu berpindah-pindah dalam menusuk mukosa usus, hingga menimbulkan luka perdarahan dalam waktu yang cukup lama kaena cacing tersebut menghasilkan toksin anti koagulasi darah. 1 – 2 hari setelah di bebaskan dalam tinja, tempat yang lembap atau basah, telur akan menetas dan terbebaslah stadium pertama, selama kurang lebih satu minggu akan terbentuk larva infektif.
Proses infeksi cacing ini dapat melalui kulit, secara oral, trans-mammaria & intra- uterus serta melalui hospes paratenik (Subronto., 2006).

Infeksi C. Gelang (Askariasis)
Cacing T. canis, T. leonine, dan T. cati terdapat hampir di seluruh dunia. Spesies ini sangat sulit dihapuskan dari suatu daerah yang tertular, dikarenakan kulit telur kedua (lapis-luarnya) tebal. Telurnya dapat bertahan selama bertahun-tahun di tempat tinja anjing, serigala, maupun kucing yang terinfeksi.
Daur hidupnya adalah infeksi langsung dimana telur infektif mengandung larva stadium 2 dapat menginfeksi anak anjing dan kucing umur 4 minggu secara langsung di dalam usus dan menetaskan larva stadium 2 yang selanjutnya bermigrasi ke hati dalam waktu 2 hari lalu berkembang menjadi larva stadium 3 dan bermigrasi ke paru-paru selama 3 – 6 hari selanjutnya menginfeksi alveoli, bronchioli, dan bronchi.
Infeksi lainnya dapat berupa intra-uterus, trans-mammaria, induk pasca-kelahiran dan melalui hospes paratenik. Perjalanan larva infektif ini melalui jaringan paru-paru dan hati dapat menyebabkan edema pada organ tersebut. Infeksi cacing yang berat dapat mengakibatkan gangguan usus, yang ditandai dengan sakit perut (kolik),obstruksi usus, dan dalam keadaan kestrem dapat terjadi perforasi usus hingga tampak gejala peritonitis, juga adnaya cacing yang banyak mengakibatkan penurunan bahan makana yang diserap, hingga terjadi hipoalbuminea, yang berakibat kekurusan dan asites (Subronto., 2006).

Infeksi Cacing Pipih (Dypilidium caninum)
Cacing ini tinggal di dalam usus halus anjing, kucing, serigala, dan manusia. Untuk memeperoleh makanannya cacing ini dilengkapi dengan 4 pengisap pada sksoleksnyaserta kait-kait yang dapat ditarik ke dalam.
Daur hidupnya adalah segmen cacing yang mengadung telur keluar tubuh bersama tinja anjing dan kucing secara spontan. Segmen ini bergerak secara aktif di anus, tanah, dan tempat tidur penderita dan memebebaskan serta menyebarkan telur cacing. Kapsul cacing yang berisi embrio akan dimakan oleh pinjal yang nanti akan berkembang jadi sistiserkoid infektif kemudian akan dimakan oleh anjing atau kucing secara tidak sengaja (Subronto., 2006).

Dicrocoelium dendriticum (Trematoda)
Dicrocoelium dendriticum hospesnya seperti domba, sapi, rusa, dan kelinci, lokasi infeksinya saluran empedu dan vesica vellea. Meskipun ribuan Dicrocoelium dendriticum umumnya ditemukan di saluran empedu, hati cenderung normal. Hal ini agaknya dikarenakan adanya fase migrasi. Bagaimanapun juga, infeksi yang lebih berat ditemukan adanya jaringan fibrin pada saluran empedu yang lebih kecil dan perluasan sirosis akan terjadi, kadang-kadag saluran empedu nampak menjadi menggembung (Urquhart; et.all. 1996).
 
Paramphistomum cervi dan Paramphistomum microbothrium (Cestoda)
Paramphistomum cervi dan Paramphistomum microbothrium hospes adalah ruminan, lokasi infeksi dewasanya pada rumen dan retikulum sedangkan stadium intermediet pada duodenum. Cacing muda menyumbat penyalur makanan dan menghasilkan pengikisan mukosa duodenum. Pada infeksi berat mengakibatkan enteritis, hemoraghi dan ulcer. Ketika dilakukan nekropsi cacing muda dapat dilihat seperti kelompok parasit berwarna pink kecoklatan menempel pada mukosa duodenum dan kadang-kadang juga pada jejunum dan abomasum. Ribuan cacing dewasa juga ditemukan dan bertahan hidup (memperoleh makanan) pada dinding rumen atau retikulum (Urquhart; et.all. 1996).

Taenia saginata (Cestoda)
Stadium intermediet dari cacing pita ini ditemukan di otot sapi, seringkali menimbulkan masalah ekonomi pada industri daging sapi dan menimbulkan bahaya kesehatan umum (Urquhart; et.all. 1996).

Cooperia (Nematoda)
Hospesnya pada hewan-hewan ruminan, infeksinya pada usus halus.
Patogenesis Cooperia oncophara dan Cooperia curticei umumnya merupakan parasit patogen ringan. Cooperia punctata, Cooperia pectinata dan mungkin Cooperia surnabada lebih patogenik sejak mereka penetrasi ke dalam permukaan epitel usus halus dan menyebabkan gangguan yang dikenal sebagai trichostrongylosis usus yang mana memiliki peranan penting dalam atrophy vili dan penurunan area yang tersedia untuk penyerapan. Pada infeksi berat diare sering ditemukan (Urquhart; et.all. 1996).

Strongyloides (Nematoda)
Hospesnya sebagian besar hewan, lokasi infeksinya usus halus dan juga pada sekum. Strongyloides westeri kuda dan keledai. Strongyloides papilorus ruminan. Strongyloides ransomi babi. Strongyloides stercoralis anjing dan kucing. Strongyloides avium ayam/unggas.
Penetrasi di kulit oleh larva infektif menyebabkan reaksi erythematus yang mana pada domba diikuti masuknya organisme asing yang menyebabkan pembusukan kaki/kuku. Jalur jalannya larva di paru-paru dapat terlihat ketika dilakukan pembedahan/nekropsi. Parasit dewasa ditemukan dalam duodenum dan jejunum bagian proximal dan jika ditemukan dalam jumlah banyak mungkin menyebabkan peradangan dengan oedema dan pengikisan epitel (Urquhart; et.all. 1996).


Respon Ragawi Hewan Terhadap Penyakit Cacingan
Bila jumlah agen asing yang masuk ke dalam tubuh hospes kecil. Maka agen tersebut akan dikelilingi sel-sel fagosit dan secara bertahap akan tergencet tidak bergerak oleh adanya deposisi jaringan kolagen di sekitarnya. Bila jumlahnya besar, reaksi hospes lebih besar dengan timbulnya radang. Kondisi ini ditandai dengan timbulnya udim sebagai akibat dilatasi kapiler lokal (vaso-dilatasi) karena meningkatnya suplai darah ke daerah yang terinvasi agen asing.
Mengalirnya leukosit ke daerah terinvasi biasanya diikuti dengan migrasi limfosit yang beberapa darinya akan mentransformasikan menjadi sel-sel mononuklear atau fibroblas. Fibroblas mempunyai peranan penting dalam pembentukan kapsul-apsul fibrosa yang mengelilingi banyak parasit jaringan terutama larva cacing (Trichinella spiralis). Bila kapsul berada dalam waktu lama bisa terjadi kalsifikasi atau pengapuran (Sumartono, 2001).

Pertumbuhan- pertumbuhan abnormal jaringan dengan adanya parasit adalah:
  1. Hiperplasia,, adanya peningkatan pembelahan sel. Pada kondisi ini jumlah sel meningkat tetapi ukurannya tetap. Pertumbuhan ini sering akibat iritasi seperti pada hati kelinci yang terinfeksi oleh E. Stidae. Harus dibedakan antara hiperplasi dan hipertrofi. Kalau hipertrofi yang meningkat ukuran sel bukan jumlahnya.
  2. Metaplasia,, adalah transformasi satu jenis jaringan ke jaringan yang lain. Abnormal ini tidak umum berkaitan dengan adanya parasit, walaupun dapat terjadi pada infestasi cacing paru Paragonimus westermani.
  3. Neoplasia,, merupakan suatu pertumbuhan sel jaringan baru dari sel-sel yang ada dan dari pertumbuhan semacam itu secara umum disebut sebagai tumor. Suatu neoplasma atau tumor dapat didefinisikan sebagai suatu pertumbuhan baru yang muncul dari jaringan yang ada sebelumnya, tidak tergantung dari kebutuhan organisme dan kemunculannya tidak memiliki tujuan yang berguna, tetapi sebaliknya malah sering merugikan. Cacing parasit adalah salah satu diantara banyak agen penyebab tumor. Misalnya Gangylonema neoplasticum berkaitan dengan pembentukan tumor pada lidah, Paragonimus westermani dan Clonarchis sinesis berkaitan dengan tumor paru-paru pada harimau dan manusia. Namun demikian hanya larva Hydatigera taeniaeformi, Cysticercus fasciolaris (parasit hati rodensia), Spirocerca lupi dewasa parasit esofagus anjing yang benar-benar dituduh berkaitan dengan terbentuknya sarkoma di organ predileksinya. (Sumartono, 2001)
Infeksi C. Tambang (Ankilostomiasis)
Gejala-gejala akibat infeksi cacing Ankilostomiasis seperti hilangnya darah dalam waktu pendek, tinja lunak, berwarna gelap serta anemia dapat dilihat dari pucatnya selaput lendir mulut, mata, vagina, maupun kulit, terutama daerah perut. Radang yang ditimbulkan menyempitkan muara saluran empedu yang menyebabkan ikterus (Subronto., 2006).

Infeksi C. Gelang (Askariasis)
Penderita cacingan memperlihatkan gejala kelemahan umum, yang juga disebabkan anemia. Ekspresi muka sayu, mata berair, dan mukosa mata maupun mulutnya tampak pucat, perut menggantung, malas berjalan mauun bergerak, tidak jarang gejala konvulsi ditemukan. Migrasi larva juga mengakibatkan batuk, dispnoea, dan radang paru ringan. Gejala anoreksi juga sangat mencolok.
Dalam pemeriksaan pasca mati jaringan tampak anemis dan hidremis, hati tampak pucat, memebesard dengan beberapa bagian mengalami perdarahan titik atau ecchymosed. Paru-paru tampak pucat, jantung membesar, pucat, dan mungkin terjadi hidroperikard. Saluran pencernaan pucat dengan beberapa terjadi perdarahan, cacing dewasa ditemukan dalam lumen usus, mukosa usus mengalami eosinofilik bersifat local. Perubahan patologi klinik ditemukan lekositosis, hipoalbuminea, kadar β-globulin meningkat (Subronto., 2006).
 
Dicrocoelium dendriticum (Trematoda)
Gejala Klinis seperti anemia, oedema, dan emasiasi yang sering terjadi pada beberapa kasus (Urquhart; et.all. 1996).

Paramphistomum cervi dan Paramphistomum microbothrium (Cestoda)
Gejala klinis yang paling sering adalah diare disertai anorexia dan dehidrasi. Kadang-kadang pada sapi, disertai hemoraghi di rektum. Kematian pada perjangkitan akut dapat mencapai 90% (Urquhart; et.all. 1996).

Taenia saginata (Cestoda)
Patogenesis dan gejala klinisnya dijelaskan bahwa meskipun dibawah kondisi alamiah keberadaan cysticerci dalam otot sapi tidak ada hubungannya dengan gejala klinis, perkembangan telir T. saginata menyebabkan myocarditis dan gagal jantung. Pada manusia, cacing pita dewasa mungkin menyebabkan diare dan nyeri perut (Urquhart; et.all. 1996).


Cooperia (Nematoda)
Gejala klinis yaitu adanya penurunan selera makan, penurunan berat badan dan dengan adanya Cooperia punctata dan Cooperia pectinata, diare, penurunan berat badan yang drastis dan oedema pada submandibula (Urquhart; et.all. 1996).

Strongyloides (Nematoda)
Gejala klinis umum yang sering terlihat hanya pada hewan sangat muda adalah diare, anorexia, kusam, penurunan berat badan (Urquhart; et.all. 1996).

 
Diagnosa Terhadap Penyakit Cacingan
Infeksi C. Tambang (Ankilostomiasis)
Diagnosa dari infeksi cacing Ankilostomiasis yaitu dengan memeriksa tinja, gejala diare berdarah, penurunan aktifitas system imunitas, hingga anjing mudah menderita parvovirus, hepatitis, dan distemper (Subronto., 2006).

Infeksi C. Gelang (Askariasis)
Riwayat kennel maupun cattery tempat penderita tumbuh dapat digunakan sebagai pegangan dalam penentuan diagnosis antara lain berupa batuk, pilek, anoreksia, diare, perut membesar, menggantung, dan konvulsi. Diagnosis pasca mati, seperti perdarahan sub mukosa akibat larva ditemukan pada paru-paru dan hati. Untuk hewan dewasa diagnosis cacingan oleh ketiga jenis ini dapat ditemuka didalam spesimen (Subronto., 2006).

Infeksi Cacing Pipih (Dypilidium caninum)
Rasa gatal di daerah anus, menggosok-gosokkan bagian gatal tersebut serta berjalan dengan tubuh tegak, adanya segmen cacing di tempat tidur, proglotid berupa trapezoidal berbeda dari segmen taenia yang berbentuk segiempat.

Dicrocoelium dendriticum (Trematoda)
Diagnosis sepenuhnya didasarkan pada pemeriksaan telur dalam feses dan penemuan saat nekropsi (Urquhart; et.all. 1996).

Paramphistomum cervi dan Paramphistomum microbothrium (Tremaoda)
Diagnosis didasarkan pada gejala klinis yang kadang-kadang menyangkut hewan muda di peternakan dan sejarah rumput disekitar habitat keong selama periode musim panas. Pemeriksaan feses sedikit penting sejak penyakit terjadi selama periode prepatent. Penegasan dapat diperoleh dari pemeriksaan posmortem dan penemuan kembali cacing kecil dari duodenum (Urquhart; et.all. 1996).

Taenia saginata (Cestoda)
Diagnosisnya disebutkan bahwa dari tiap negara memiliki penanggulangan yang berbeda-beda. Biasanya dilakukan pemeriksaan muskulus maseter, lidah, jantung, muskulus intercostalis dan muskulus triceps (Urquhart; et.all. 1996).

Cooperia (Nematoda)
Diagnosis
Gejala klinis yang ditimbulkan, turunnya berat badan dan diare
Sejarah rumput
jumlah telur dalam feses. Penyakit tipe I sering ada lebih dari 1000 telur per gram dan berguna untuk diagnosis awal, tipe I jumlahnya berubah-ubah, kadang tinggi, negatif dan jumlahnya terbatas.
Pemeriksaan post-mortem. Abomasum berbau busuk dikarenakan adanya akumulasi bakteri dan tingginya pH. Cacing dewasa berwarna kemerahan dan panjangnya 1 cm, dapat dilihat dengan pemeriksaan yang teliti pada permukaan mukosa (Urquhart; et.all. 1996).

Strongyloides (Nematoda)
Diagnosisnya, sedikit atau banyaknya telur yang dapat dalam feses belum tentu hewan tersebut terjangkit cacing Strongyloides (Urquhart; et.all. 1996).
 

DAFTAR PUSTAKA

Subronto., 2006. Penyakit Infeksi Parasit & Mikroba Pada Anjing & Kucing. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Sumartono. 2001. Parasitologi Umum. Yogyakarta: Bagian Parasitologi FKH UGM.

Urquhart G.M., Armour J., Duncan J.L., Dunn A.m., and Jennings F.W. 1996. Veterinary Parasitology 2nd Edition. ELBS, England.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar